Stay in The know

Glitz Journal

Masihkah Ada Cinta di Negeri Indonesia?

Cinta dan kasih, kado terbaik untuk negeri.

Masihkah Ada Cinta di Negeri Indonesia?

Cinta dan kasih, kado terbaik untuk negeri.


Beberapa kasus yang muncul dewasa ini kerap menyayat hati. Teriakan kebencian seolah terlontar seenaknya untuk Ibu Pertiwi. Bukan hanya itu, rasa kemanusiaan, persaudaraan antar penghuni negeri semakin lama pun kian luruh dalam ego dan emosi tanpa kendali. Apa yang terjadi, Indonesia?


Kasus pembakaran hidup-hidup, pembuangan bayi, antipati pada negeri, hingga pertengkaran di jalan menjadi berita yang kerap mewarnai layar televisi dan media sosial. Polemik negeri kini bukan hanya sekadar tindak korupsi, namun menjadi lebih rumit. Rakyat terpecah dengan pandangan yang terkadang malah membelah. Sebenarnya, apa yang salah dengan negeri ini? Mari mengkritisi dan mencari jawab atas tanya yang membebani ini.


Nasionalisme Tergerus

Beberapa siswa SMA menjadi narasumber untuk kami tanyai mengenai agenda hari Senin yang dulu rutin Anda temui—upacara bendera. Ternyata, tidak semua sekolah masih menjalankan upacara bendera di hari Senin yang menjadi salah satu pembangkit nasionalisme. Tidak heran jika hafalan Pancasila sebagai dasar negara hingga Pembukaan Undang-Undang 1945 seolah luput dari ingatan para generasi penerus, ataupun mereka yang kini menduduki jabatan negara.


Politik Bebas Aktif yang Terlupakan

Indonesia adalah salah satu pihak yang memprakarsai terbentuknya negara-negara non-blok pada saat perang dingin lalu. Artinya, Indonesia tidak memihak sayap kiri—komunisme—maupun sayap kanan—liberalisme. Indonesia dengan politik bebas aktif memiliki ideologinya sendiri, yaitu Pancasila. Sebuah ideologi yang cocok untuk negara beragam suku, budaya, bahasa, dan agama. Pancasila melindungi dan menghargai perbedaan—hal yang seharusnya menjadi dasar pemikiran masyarakat Indonesia.


Terkikisnya Rasa Persaudaraan

Saya, kamu, Anda, dia, kami, mereka, kita Indonesia. Seringkali hal ini terlupakan hingga cacian dan cibiran justru mewarnai komunikasi masyarakat. Perbedaan prinsip menjadi alasan perseteruan hingga main hakim sendiri, baik secara verbal maupun tindakan. Rasa persaudaraan—bahkan kemanusiaan—terkikis hanya karena prinsip hidup yang berbeda. Jika bisa bersaudara dalam beda, mengapa harus bermusuhan?


Mengkritisi Tanpa Solusi

Mulut yang terbungkam saat Orde Baru kini bebas bersuara lantang. Sayang, rasa pesimis yang tercipta selama 32 tahun Orde Baru rupanya masih mengakar meski generasi sudah berganti. Hal ini membuat kritik terus tajam menukik tanpa diiringi solusi aplikatif yang menyertai. Hasilnya, pesimistis dan main hakim sendiri menjadi pilihan banyak masyarakat di segala lapisan.


Menggaungnya Kepentingan Golongan

Partono Karnen, S.H., mantan Atase Militer Republik Indonesia, pernah menyampaikan bahwa kehancuran negeri ini bisa terjadi jika persatuan dan kesatuan terpecah belah. Menurutnya, persatuan dan kesatuan bangsa merupakan senjata utama Indonesia untuk menjadi negara maju. Sayang, kepentingan golongan sepertinya menjadi yang utama bagi banyak pihak. Haus akan kekuasaan membuat negeri ini lambat berjalan akibat kritik dalam negeri yang dirasa berlebihan.


Media Haus Fenomena

Beberapa waktu lalu, Laude M. Syarief, Wakil Ketua KPK, menyampaikan bahwa media seringkali lebih sibuk memberitakan tentang penindakan KPK atas kasus korupsi—bukan upaya pencegahan yang dilakukan oleh lembaga tersebut. Mungkin, banyak media yang juga merasa bahwa berita penangkapan dan penindakan jauh lebih disukai rakyat ketimbang sekadar pencegahan. Padahal, bukankah media juga memiliki tanggung jawab edukasi pada rakyat? Berita sensasional memang menarik untuk dilirik, namun perlu tanggung jawab lebih agar pemaparannya dapat ditanggapi lebih bijaksana oleh masyarakat.


Sebaiknya, masyarakat Indonesia lebih bijaksana dalam menghadapi perbedaan yang ada. Tidak perlu menyeragamkan, namun menghargai perbedaan pendapat satu sama lain. Lakukan hal kecil yang positif untuk sesama manusia. Tingkatkan cinta—sebagai kado terbaik—pada Indonesia dan rakyat yang ada di dalamnya karena saya, kamu, Anda, dia, kami, kita, dan mereka adalah satu saudara—sesama mahluk hidup, sesama manusia. Dirgahayu, Indonesia-ku.


(Shilla Dipo, Foto: Pxhere.com)

You Might Also LIke