Stay in The know

Glitz Journal

Perjalanan Kisah Cinta Membawa Keteduhan Bagi Hakim Satriyo

Perjalanan Kisah Cinta Membawa Keteduhan Bagi Hakim Satriyo

Refleksi kepedihan hati Hakim Satriyo melalui koleksi busana Teduh


Eksistensi Hakim Satriyo di industri mode terkenal lewat hasil bidikan fotonya yang apik. Nuansa monokrom yang menjadi identitas karyanya, memperkuat cerita dibalik rancangan koleksi para desainer. Praktis, belasan tahun bergelut dalam kecintaanya pada fotografer mode menimbulkan rasa yang sama terhadap sang objek. Cukup mengejutkan, dirinya benar menekuni keseriusan tersebut dengan menciptakan lini busana TEDUH di bulan April kemarin. 

Di suatu pagi di pertengahan Juli, saya menghampiri sebuah studio di bilangan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Meski sedikit lewat dari waktu janji temu, namun Hakim menyambut dengan sangat hangat. Tampil sederhana dengan hanya mengenakan kaus hitam dan celana cargo, Ia mengajak saya ke sebuah teras untuk berbincang mengenai lini pakaiannya.


Perjalanan Mencari Keteduhan

Dimulai dari penawaran sebuah pameran fotografi dalam ajang Fashion Nation 2017. “Namun apakah perlu? Apa pula yang sebenarnya perlu ditampilkan dalam pameran fotografi?” ungkap Hakim Satriyo mengawali kisah perjalanan Teduh. Meski berpikir demikian, kesempatan itu tidak ia lewatkan begitu saja. Mimpi yang sudah lama tertanam ia putuskan pada menit terakhir dan menerima penawaran tersebut, namun dengan titel ‘perancang busana’.

Sebuah momen pahit membawa Hakim untuk mengunjungi keagungan Gunung Batur, Bali. Keindahannya berhasil menginspirasi Hakim dalam merancang koleksi Teduh yang apik. “Saat melakukan perjalanan ke Gunung Batur, saya tidak hanya melihat keindahan alam tetapi juga menemukan jati diri. Teduh merupakan refleksi dari rasa bahagia dan kepedihan yang tengah saya hadapi. Nama ‘Teduh’ sendiri juga merupakan refleksi keinginan untuk mencari titik ketenangan dalam hidup. ‘Teduh’ is a love story,” tukasnya. 

Sebanyak 35 koleksi yang kala itu mewarnai panggung Fashion Nation 2017, mengejutkan pengamat mode. Hakim memilih nuansa pastel yang cukup berbeda dengan identitas fotografinya. Terlepas dari hal tersebut, rancangan koleksi ‘patah hati’ ini merefleksikan kepribadian Hakim Satriyo yang minimalis mengikuti idealismenya. Berbicara idealisme, Hakim mengaku bahwa dirinya selalu mengerjakan proyek berdasarkan apa yang ia sukai dan tidak memandang tren sebagai panutan. 


 

  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke